| Tanggung Jawab Moral |
|
|
|
| Minggu, 01 Pebuari 2009 11:54 | ||||
Efek dari penyalahgunaan narkoba tersebut yang menjadi beban permasalahan. Hal ini dituturkan oleh Sadarjoen bahwa dengan penyalahgunaan narkoba dapat melemahkan kepribadian seorang remaja sehingga dapat menimbulkan kontradiksi dalam masyarakat yang diwujudkan dengan tindakan kriminal atau kejahatan. Usaha untuk mengatasi problem tersebut, selain peran pemerintah dan pihak yang terkait, agama memiliki peran yang ideal dalam menangani usaha menepis kapasitas penyalahgunaan narkoba yang relatif besar di kalangan remaja. Penegasan masalah ini dinyatakan oleh Abdullah (2006: 116) bahwa agama hendaknya turut andil memberikan solusi di luar masalah agama. Agama Buddha yang menekankan pada legitimasi moral dituntut untuk berperan dalam masalah tersebut. Generasi Buddhis yang memiliki semangat yang kuat, memiliki tanggung jawab moral terhadap masalah ini, guna menjadi ujung tombak yang kokoh dan bebas dari narkoba dalam menggali identitas diri yang bermoral. Sekilas Tentang Narkoba Identifikasi narkoba adalah narkotika, alkohol dan obat-obatan terlarang. Narkoba sebenarnya telah dikenal oleh manusia sekitar 5000 tahun yang lalu, salah satunya marijuana (ganja). Pemahaman tersebut ditegaskan oleh Pemaratana bahwa obat tersebut awalnya digunakan untuk medis yang tujuannya sebagai obat penenang dan penawar rasa sakit. Produk narkoba seperti opium, heroin, morfin dan macam-macam produk minuman yang mengandung alkohol merupakan produk yang digunakan secara medis untuk pengobatan gangguan mental dan gangguan emosional. Namun realisasinya, narkoba digunakan dalam kalangan remaja yang bertujuan hanya untuk kesenangan sepintas, trend, agar disebut gaul, dan biar dibilang funky. Selain itu, Sadarjoen menuturkan bahwa sebab-sebab yang mendorong remaja mengunakan narkoba adalah: 1. Kurangnya perhatian dari orang tua 2. Frustrasi
Kemudian Pemaratana juga menegaskan bahwa seorang remaja menggunakan narkoba karena dorongan ingin tahu dan “iseng saja”. Dari tindakan tersebut mendorong pelaku atau pengguna narkoba menimbulkan berbagai masalah baik dalam dirinya sendiri maupun pihak lain. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat ditunjukkan dengan sifat yang agresif, sakit mental, panik, gelisah, kehilangan koordinasi tubuh. Selain itu, banyak pengguna narkoba yang terperosok dalam tindak kejahatan. Lebih parah lagi mengenai efek dari narkoba terhadap kesehatan yang buruk mengarah pada tingkat usia manusia yang dapat berkurang atau memperpendek hidupnya sekitar 15-20 tahun (Pemaratana, 2007). Permasalahan ini akan mengusik keharmonisan masyarakat ketika pengguna narkoba melakukan tindak kejahatan dan menjadi kecanduan. Narkoba yang menjadi faktor penyebab kegelapan pikiran atau lemahnya kesadaran dapat menimbulkan kesengsaraan bagi diri sendiri, lingkungan keluarga, maupun masyarakat. Secara konkrit dapat menimbulkan suatu kemerosotan baik mental maupun moral. Berdasarkan pengaruh yang muncul akibat dari pengunaan narkoba, Pemaratana mengkasifikasikan menjadi tiga tipe pecandu narkoba. Tujuan dari mengklasifikasi pengaruh tersebut untuk usaha menangani dan penyediaan pendidikan yang harus dicanangkan oleh pemerintah, swasta, lembaga kesehatan, maupun semua pihak yang terkait. Klasifikasi dari tipe tersebut adalah:
1.Pecandu utama
Golongan ini memiliki karakteristik kepribadian yang buruk, depresi dan gelisah. Motivasi yang dimiliki sangat mentah dan tidak memiliki tujuan yang dewasa. 2.Pecandu Symptomatic
Karakteristik dari golongan ini lebih bersifat agresif, antisosial, dan menolak moral masyarakat. Golongan ini rentan dengan tindak kejahatan. 3.Pecandu yang reaktif
Kelompok ini lebih didominan oleh anak remaja. Karateristik dari golongan ini lebih menonjolkan usaha untuk mendapatkan sambutan baik di kalangan remaja yang berkecenderungan pada narkoba. Usaha ini lebih mengacu pada pencarian identitas diri, gaya hidup remaja. Usaha mencari identitas diri tersebut dilakukan oleh remaja karena remaja merupakan masa transisi. Konkritnya remaja tidak dapat digolongkan pada tingkat anak-anak karena sudah beranjak dewasa. Tetapi belum termasuk pada kelompok dewasa karena emosionalnya masih labil. Perspektif Agama Buddha Terhadap Narkoba Pemahaman agama Buddha terhadap narkoba memiliki sudut pandang yang spesifik. Perspektif tersebut tampak dalam tata moral yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam mengisi kehidupan dengan bersahaja. Moralitas yang menjadi dasar setiap individu agar hidup dalam keharmonisan salah satu berisikan suatu tekad atau latihan untuk tidak menggunakan obat yang dapat melemahkan kesadaran. Pancasila maupun atthasila secara tegas menekakan untuk tidak minum-minuman keras yang dapat melemahkan kesadaran. Pelanggaran dari sila tersebut sebenarnya yang paling riskan, karena dapat menjadi rangsangan untuk melanggar sila yang lainnya yang ditunjukkan dengan tindak kejahatan. Melamahnya kesadaran tersebut dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan pembunuhan, pencurian, melakukan tindakan asusila, maupun berbohong. Selain itu, Buddha menegaskan hal ini dalam Sigalovada Sutta (Davids, 2002: 182) bahwa efek dari penguna narkoba adalah: 1.Kehilangan harta benda 2.Menimbulkan pertengkaran 3.Mudah terserang penyakit 4.Mendapat reputasi buruk 5.Kecerdasan intelektual menurun 6.Tidak memiliki rasa malu berbuat jahat Kuranngnya pemahaman dari pengaruh narkoba tersebut yang menimbulkan maraknya penyalahgunaan narkoba. Meskipun telah mengetahui efek dari narkoba, tetapi penyalahgunaan tetap berlangsung karena didasari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Pelanggaran tersebut terjadi jika terdapat kehendak yang mendorong untuk melakukan tindakan tersebut, meskipun masih ada syarat yang lain. Buddhaghosa (Tim Penyusun, 2003: 34) menyatakan lebih tegas bahwa pelanggaran telah terjadi, meskipun tidak menimbulkan mabuk. Maka dari itu dalam agama Buddha narkoba tidak memiliki tempat untuk dilegalkan dan secara tegas menolak penyalahgunaan narkoba. Peran Agama Buddha terhadap Narkoba Berbagai pesan telah terlontar mengenai larangan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Pesan yang dilontarkan berasal dari berbagai pihak, baik dari pemerintah sampai pesan moral dari agamapun mewarnai peringatan pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Salah satu pesan yang dikutip oleh Sadarjoen bahwa presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui SMS untuk menghentikan penyalahgunaan dan kejahatan narkoba membuat orang tua harus meningkatkan kewaspadaan terhadap remaja yangrentan penyalahgunaan narkoba. Agama yang memiliki tatanan moralitas serentak meyerukan larang tersebut. Buddha telah menunjukkan ketidaksetujuan mengenai narkoba dalam berbagai ajarannya agar seseorang mampu hidup bahagia dan damai. Menurut Galmangoda (Perera, 2000: 405) bahwa tidak ada satu orang yang tidak ingin sukses. Bebas dari permasalah ini merupakan suatu kesuksesan, karena bagi pengguna sebenarnya memiliki kemauan untuk lepas dari jeratan narkoba. Tetapi usaha tersebut tidak tahu akan diawali dari mana. Agama Buddha lebih menekankan pada kemauan individu yang bersangkutan karena individu memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang harus dikembangkan pada setiap individu dalam menjaga moralitas yaitu: 1.Hiri Hiri dalam pemahaman Buddhis merupakan sikap malu untuk berbuat jahat. Sikap tersebut ditunjukkan dengan menjaga moralitas dan memiliki komitmen untuk berbuat bajik. Salah satunya tidak menyalahgunakan narkoba, karena berusaha menjalankan sila. 2.Ottapa Ottapa merupakan sikap yang muncul karena takut dari akibat perbuatan jahat.. Berbagai macam pengaruh dari penggunaan narkoba yang cenderung mencerminkan tindakan negatif yang seharusnya dijaukan dari pola pikir manusia. Kekuatan ini lebih bersifat preventif dan cenderung pada individu yang belum menggunakan narkoba. Maka dari itu perlu penaganan yang intensif bagi remaja yang telah terjerumus dalam narkoba. Agama Buddha menunjukkan kekuatan yang luar biasa dari pengembangan pikiran, karena pikiran merupakan dalang dari segala sesuatu. Usaha untuk bebas dari narkoba di kalangan remaja tidak terlepas dari pikiran yang positif. Berbagai efek yang dialami dari pengguna narkoba seperti daya ingat yang lemah, emosi yang menyakitkan, pandangan yang khayal, dan keinginan nafsu yang rendah dapat ditemukan akar dan penyembuhanya dalam ajaran Buddha (Taniputera, 2003: 53). Aplikasi nyata dari prosedur tersebut dengan cara meditasi relaksasi dan penanaman pikiran positif (positive thinking). Melalui pikiran yang bersih dan sehat mengantarkan individu pada kehidupan yang sehat dan penuh dengan ketenangan. Pikiran yang positif dapat mengarahkan pada kegiatan yang lebih bermanfaat. Pada saat pecandu mulai merasakan ketagihan harus mencoba untuk mengalihkan pada aspek yang positif, misalnya menghabiskan waktu dalam kegiatan di vihara, mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, dan mencoba menyibukkan diri dengan tujuan mengalihkan perhatian yang terpusat pada narkoba. Meskipun prosedur ini tidak mudah untuk dilakukan, tetapi tidak ada kesuksesan ketika tidak ada perjuangan yang sungguh-sungguh dalam membina tekad dan pikiran diri sendiri, karena diri sendiri yang mampu merubah pola pikir yang kolot. Penutup Sesuai dengan ajaran Buddha bahwa orang yang menjalankan sila (atthasila) dengan sungguh-sungguh meskipun hanya dalam rentang waktu yang relatif singkat berarti talah mengikuti jejak arahat. Maka dari itu generasi Buddhis memiliki tanggung jawab moral yang besar karena secara konkrit Buddha menyarankan untuk selalu menjaga sila. Selain itu, segala perubahan yang merugikan manusia tidak terlepas dari moral manusia yang semakin merosot. Jadi generasi Buddhis mendapatkan tantangan yang hebat dalam menyambut tahun baru bahwa generasi Buddhis sebagai The agent of changes yang bebas dari narkoba dan menunjukkan dedikasi yang berkualitas baik secara tingkah laku maupun secara mental. Pemahaman ini tanamkan mulai sekarang dan isilah setiap saat dengan moralitas yang baik dengan menjalankan sila dan bebas narkoba. Referensi:
|
||||
| Diperbarui pada Selasa, 10 Pebuari 2009 11:27 |
Dhammawacana
Warga negara yang baik dalam Buddhisme![]() Komponen suatu negara merupakan bentuk bagian yang sangat majemuk yang mana terdiri dari berbagai jenis... Selengkapnya |
Rumah Tangga Bahagia![]() Dari sudut pandang ajaran Buddha, pernikahan bukanlah sesuatu yang suci ataupun tidak suci. Ajaran Buddha... Selengkapnya |
Kelahiran kembali![]() www.lostlanders.com Pengenalan Penjelasan tentang “nasib” manusia setelah mengalami kematian mungkin adalah salah satu dari... Selengkapnya |
Tanggung Jawab Moral![]() www.arc.org.uk Perkembangan dunia dewasa ini memberikan gambaran yang sangat komplek dalam ruang lingkup manusia.... Selengkapnya |
Samadhi dalam Tipitaka![]() www.virginiapeck.com Pembahasan tetang manusia dalam pandangan agama Buddha tidak terlepas dari sisi batin dan... Selengkapnya |
|
|
More in: Dhamma |
||
100% - + 3Show options | ||









