Rumah Tangga Bahagia PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Pebuari 2009 09:06
rtbsDari sudut pandang ajaran Buddha, pernikahan bukanlah sesuatu yang suci ataupun tidak suci. Ajaran Buddha tidak menganggap pernikahan sebagai suatu kewajiban religius maupun sebagai suatu hal yang sakral yang ditakdirkan di surga. Seorang kritikus berkata, ketika beberapa orang percaya bahwa pernikahan telah direncanakan di surga, beberapa orang lainnya berkata bahwa pernikahan dicatat pula di neraka. Pernikahan pada dasarnya merupakan hak pribadi dan sosial, bukan suatu kewajiban. Seorang lelaki maupun perempuan memiliki kebebasan memilih untuk menikah atau tetap hidup sendiri. Hal ini tidak berarti kalau ajaran Buddha menentang pernikahan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan berkata bahwa pernikahan adalah hal yang buruk dan tidak ada ajaran agama apapun yang menentang pernikahan.
Kata Pengantar
liang kubur, manusia selalu sibuk dalam mengejar kebahagiaan hidup. Kita bekerja serta berjuang keras untuk mencapai kebahagiaan, dan kebanyakan tanpa mengetahui apa makna sesungguhnya dari kebahagiaan itu sendiri, karena kebodohan kita akan hakekat kehidupan ini. Meskipun semua ajaran agama memberikan nasehat dan panduan bagi umat-umatnya untuk diamalkan guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia, kerap kali nasehat-nasehat dan panduan-panduan ini diabaikan oleh karena ketamakan, kebencian, dan kebodohan baO n manusia. Banyak orang yang mengalami tekanan dan penderitaan berharap dan berdoa untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan ini dan setelahnya; sementara yang lain, meskipun telah menikmaO begitu banyak kebahagiaan di dunia, masih belum puas dan mendambakan kebahagiaan abadi di alam surga setelah meninggalkan dunia ini. Bagi manusia biasa, seperO kanak-kanak, mereka kesulitan untuk membedakan antara kebahagiaan dengan kenikmatan. Baginya, apa saja yang memberikan kenikmatan berarO sama dengan memberikan kebahagiaan, dan untuk menjadi bahagia adalah dengan memperoleh kenikmatan.

Kerap kali, kita menganggap masa kanak-kanak sebagai masa penuh kebahagiaan. Sebenarnya, sebagai anak-anak kita belum memahami apa kebahagiaan itu. Di bawah naungan orangtua, kita melewaO hari-hari penuh kesenangan yang O dak diragukan lagi memang memberikan kenikmatan. KeO ka kita memasuki masa remaja, perubahan terjadi dalam cara berpikir dan bentuk tubuh yang menyebabkan kita memperhaO kan keberadaan lawan jenis kita, dan kita mulai mengalami jenis ketertarikan baru yang menimbulkan emosi-emosi yang bergejolak. Di saat yang sama, rasa ingin tahu mendorong kita untuk mencari penjelasan tentang kenyataan hidup ini, melalui diskusi­diskusi dan membaca buku. Tak lama kemudian, Oba-O ba kita menemukan diri kita sudah berada di ambang masa dewasa, masa penOng dalam hidup keOka kita mencari pasangan hidup yang cocok untuk memulai suatu hubungan, yang akan menguji seluruh kualitas hidup yang telah kita pelajari sebelumnya. Cinta, seks, dan pernikahan kemudian menjadi hal yang sangat penOng yang akan menentukan kualitas kehidupan pernikahan kita. Pemuda-pemudi saat ini berhadapan dengan berbagai macam pengaruh “Barat” yang disebarkan melalui media massa seperO buku dan majalah, televisi, kaset video dan . lm, mengakibatkan munculnya pandangan yang keliru terhadap cinta, seks, dan pernikahan. Kebajikan dan nilai moral “Timur” kuno terkikis sedikit demi sedikit menghadapi pengaruh-pengaruh ini. Beragam perilaku yang dahulu Odak pernah terdengar atau yang Odak pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya, telah menjadi hal yang umum di dalam masyarakat dewasa ini. Apakah pengaruh “Barat” benar-benar bertanggung jawab atas hal ini; atau haruskah orangtua disalahkan atas perilaku salah anak-anak mereka, karena Odak menuntun dan mengawasi mereka?

Di dalam buku ini, dijelaskan bahwa kebanyakan program televisi dan . lm itu Odaklah menunjukkan cara berpikir dan berOndak yang sesungguhnya dari kebanyakan orang baik-baik di Barat, dan bahwa sebenarnya terdapat banyak “mayoritas diam” dari pasangan Barat yang baik-baik yang sangat religius dan “konservaOf” terhadap cinta, seks, serta pernikahan sebagaimana halnya dengan pasangan “Timur”. Jika orang-orang muda kita hendak mengikuO Barat, mereka disarankan untuk mengikuO “mayoritas diam” ini, yang sebenarnya Odak berbeda dengan beberapa tetangga baik-baik mereka yang Onggal di sebelah. Kehidupan modern dipenuhi dengan berbagai macam ketegangan dan tekanan. Tak diragukan, kerap kali ketegangan dan tekanan inilah yang menimbulkan masalah dalam banyak kehidupan pernikahan. Jika suatu analisis yang memadai dilakukan terhadap akar permasalahan-permasalahan sosial seperO seks di luar pernikahan, hamil muda, pernikahan tak bahagia dan perceraian, pelecehan seksual terhadap anak dan pertengkaran suami istri, kita menemukan bahwa hal ini terutama bersumber dari keegoisan dan kurangnya kesabaran, toleransi dan pengerOan bersama. Dalam Sigalovada Su.a, Sang Buddha memberikan nasehat baik tentang bagaimana menjaga kedamaian dan keharmonisan di dalam rumah antara suami dan istri guna membentuk kehidupan pernikahan yang bahagia. Tanggung jawab orangtua terhadap anaknya dan kewajiban anak terhadap orangtuanya juga dengan jelas disebutkan dalam Su.a sebagai panduan yang bermanfaat untuk mencapai rumah tangga bahagia. Di dalam buku ini, Y.M. K. Sri Dhammananda menekankan poin penOng bahwa pernikahan adalah kerja sama antara dua individu dan bahwa kerja sama ini tumbuh dan berkembang keOka individu yang terlibat di dalamnya dapat berkembang. Dalam sudut pandang ajaran Buddha, pernikahan berarO saling memahami dan menghormaO keyakinan dan keleluasaan pribadi satu sama lain. Saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk menerbitkan buku seperO ini yang memberikan para pengikut ajaran Buddha, khususnya para pemuda, pemahaman yang jelas terhadap hal-hal penO ng dalam hidup seperO cinta, seks dan pernikahan, yang O dak hanya akan membantu mereka membentuk kehidupan pernikahan yang bahagia, namun juga membantu mereka dalam menjalani kehidupan yang damai dan bahagia.

Mewakili ‘Buddhist Missionary Society’, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada anggota­anggota kami atas segala bantuan dan layanan yang diberikan guna mempersiapkan buku ini. Terima kasih sebesarnya juga kami sampaikan kepada: Mr. Vijaya Samarawickrama selaku editor; Mr. Teh Thean Choo, Miss Quah Pin Pin dan Mrs. Chong Hong Choo atas bantuannya yang berharga; dan Mr. Paw Oo The. dari Burma atas desain sampulnya. Tan Teik Beng JSM, SMS, KMN, PKT Wakil Presiden, Buddhist Missionary Society Mantan Direktur, Departemen Pendidikan, Selangor 20 Desember 1986
Diperbarui pada Kamis, 05 Pebuari 2009 09:32
 

Dhammawacana

Warga negara yang baik dalam Buddhisme

News image

Komponen suatu negara merupakan bentuk bagian yang sangat majemuk yang mana terdiri dari berbagai jenis...

Selengkapnya

Rumah Tangga Bahagia

News image

Dari sudut pandang ajaran Buddha, pernikahan bukanlah sesuatu yang suci ataupun tidak suci. Ajaran Buddha...

Selengkapnya

Kelahiran kembali

News image

www.lostlanders.com Pengenalan Penjelasan tentang “nasib” manusia setelah mengalami kematian mungkin adalah salah satu dari...

Selengkapnya

Tanggung Jawab Moral

News image

www.arc.org.uk Perkembangan dunia dewasa ini memberikan gambaran yang sangat komplek dalam ruang lingkup manusia....

Selengkapnya

Samadhi dalam Tipitaka

News image

www.virginiapeck.com Pembahasan tetang manusia dalam pandangan agama Buddha tidak terlepas dari sisi batin dan...

Selengkapnya

More in: Dhamma

100%
-
+
3
Show options
Vihara Tanah Putih Semarang Copyright © 2007 - 2009. Designed by Mypotret.com