Dipostkan oleh @Vtp pada February 21, 2016

1456032301005

Kagok (Bahasa jawa) mempunyai arti tidak jadi melakukan suatu pekerjaan karena kondisi yang tidak menyakinkan. Itulah salah satu nama sebuah kampung di Kec. Ngarap-Ngarap, Kab. Grobogan-Jawa Tengah yaitu Kampung Kagok. Tentu suasana pedesaan yang sunyi tenang pada siang hari apalagi malam hari. Hanya suara-suara alam dapat terdengar oleh telinga. Sesekali suara anjing menggonggong menyambut tamu yang bertamu, serta suara kodok di aliran irigasi sawah atau di sungai. Warga masyarakat menampakan keramahan kepada siapa saja dan terkadang nampak kepolosan, nampak pula keceriaan serta wajah berseri-seri. Demikianlah kondisi yang ada di kampong Kagok-Grobogan.

Adapun yang membuat lebih menarik Kampung Kagok yaitu awal mula Agama Buddha. Awal mulanya warga Kagok menganut sikep atau lebih tepatnya sedulur sikep. Sikep berarti perilaku dalam istilah samin dan bukan agama. Warga kagok menerima ajaran samin (sikep) tetapi tidak merasa samin. Tokoh sedulur yang mengajarkan sikep yaitu mbah dabur dan mbah Joyo Ranggin. Tokoh sikep tersebut asli warga Kagok yang belajar sikep. Dahulu  kala para warga kagok belajar atau sinau (bahasa jawa) tentang ajaran samin (sikep) di sebuah pelosok kediren. Pada akhirnya kampong kagok dijuluki orang samin oleh masyarakat  desa-desa sekitarnya. Sesungguhnya, warga kampong Kagok hanya menerima ajaran Samin tapi bukan orang Samin.

Pada tahun 1968, warga Kagok mendapat pertanyaan dari pemerintahan mengenai tentang Agama. Agama yang disodorkan oleh pemerintah ada lima Agama yaitu islam, kristen, katolik, hindu dan Buddha. Yang menjadi keistimewaannya adalah masyarakat kampong Kagok memilih Agama Buddha. Pertanyaannya adalah mengapa warga kampong Kagok memilih Agama Buddha? Alasannya bahwa ajaran samin itu sesuai atau seirama dengan Agama Buddha. Salah  satu ajaran samin adalah nyolong tidak, ngutil tidak, njupuk duweke liyan (tidak mencuri,tidak mengambil yang tidak diberikan). Kecocokan ajaran antara samin dan agama Buddha maka warga Kagok memilih Agama Buddha. Pada saat itulah,semua warga kampong Kagok memeluk Agama Buddha.

1456032335172

Cetya dibangun tahun 1985 hingga sekarang masih berdiri

Dalam perkembangan jaman, warga kampong Kagok utamanya orang tua-tua banyak mengaji (belum ada paritta) Agama Buddha di Taunan dengan pembimbingnya Romo Sastro, Wirosari. Pada tahun 1982, umat Buddha mengenal paritta yang diajarkan oleh ibu sri kuntini dari semarang. Dimana paritta dibaca hingga sekarang yang tidak lainTheravada. Umat Buddha mengenal Theravada setelah kedatangan mendiang Bhante Khemasarano. Berjalannya waktu, anak-anak muda pada ibadah (ikut-ikutan) di gagakan (agama Kristen) dan di bulu (agama islam). Para orang tua bangkit dengan membangun sebuah cetya (tahun 1985) sebagai bentuk kepeduliannya agar tidak terjadi pembiaran pada anak-anak mudanya. Tujuannya agar semua anak muda bertahan memeluk agama Buddha. Pelopor agama Buddha saat itu Mbah Karto Marji, Ratip. Pak Lasiman, Pak Domo, dan Pak Sukari.

Sedikit demi sedikit agama islam dan Kristen masuk ke kampong Kagok dari para pendatang luar Kampung Kagok. Hal demikian terjadi karena umat Buddha kesulitan dalam mengurus perkawinan sesuai Agama Buddha. Walaupun demikian, umat Buddha Kampung Kagok saat ini mencapai 75-80 % dari jumlah total warga kampong. Untuk menambah keyakinan pada tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha), umat Buddha membangun Viharadengan nama “Tri Dhamma Loka” pada tahun… hingga sekarang dan menjadi tempat pusat puja dan belajar agama Buddha. Harapannya “semoga Buddhasasana selalu berkembang di Tanah Kagok”Sadhu (3x)

Sumber: Umat Buddha Dsn. Kagok

Oleh: Bdm

0 Responses to Vtp

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



No comments

    • Search Blogs

    • Vihara Tanah Putih