Dipostkan oleh @Vtp pada November 3, 2015

lorong kehidupan

Setiap pribadi menginginkan agar hidupnya bermakna. Di dalam makna itu ada kebahagian. Dan tentu saja makna dari setiap pribadi berbeda tergantung pada cara memaknai hidup itu sendiri. Di tengah kehidupan yang serba material dan ketergantungan pada teknologi, manusia cenderung menikmati pola hidup individualistic dan workholic. Asyik dengan diri dan pekerjaannya sendiri. Seperti ada ungkapan: “yang jauh menjadi dekat dan yang dekat justru menjadi jauh. Sikap cuek pada lingkungan semakin tersuburkan oleh pola kelekatan dan ketergantungan pada peralatan teknologi. Kebisingan hidup menjadikan manusia kembali sepi. Lonely in the crowd (sepi meski di tengah keramaian) lalu apa yang membuat manusia semakin jauh dari realita di sekitarnya?  Banyak yang mengatakan karena tuntutan zaman. Perkembangan peradaban manusia telah mengarah pada post modernism (paska modern). Kondisi kehidupan manusia yang hidup dalam dunia yang terasa semakin sempit (world village), dunia yang dulu begitu besar tapi kini ternyata hanya selebar daun kelor. Nilai-nilai kehidupan lokal tergerus oleh pengaruh globalisasi dan hal-hal yang tabu justru tumbuh subur di tengah kehidupan sosial masyarakat dan menjadi trend gengsi-gengsinan. Banyak individu yang masih lata namun tidak sedikit juga yang berusaha melepaskan kegaduhan hidup awam dan memilih menjalani hidup alone but not lonely.

Disini para spiritualist menggali sesuatu yang terlupakan dan kemudian menghilang. Hilang dari kesadaran. Hilang dari carut-marut gaya hidup masyarakat post modernism yang lebih menyorot pada kebutuhan akan pemuasan keinginan. Dengan demikian sesuatu yang tenggelam dapat ditimba dan mampu memberikan kesegaran bagi para pribadi-pribadi yang kehausan. Tidak sekedar haus tapi kering. Kering oleh kegelisahan. Kering oleh ketakutan dan kering oleh kebingungan. Bingung untuk menentukan jalur yang tepat untuk bisa memberikan kebahagian sesungguhnya. Usaha manusia untuk meninggalkan aturan-aturan agama yang kaku, kemudian mengandalkan pikiran dan nalar untuk menguak tabir kecerahan, ternyata tidak terungkap sesungguhnya. Teknologi diciptakan untuk bisa menjawab semua pencarian manusia akan hakekat hidup namun lagi-lagi manusia harus kecewa karena teknologi memang menghadirkan kemudahan tapi justru menciptakan keterasingan dan kekalutan seseorang terhadap realita. Sikap instan terbentuk secara sistematis dalam berfikir, berucap, dan bertindak. Kegelisahan pun bermunculan yang mampu mengatasi maka ia bisa terbebas dan melaju di aliran kehidupan, tapi yang tidak sanggup maka berakhir di dunia malam, sebagian lagi di rumah sakit mental dan sebagiannya lagi harus mengakiri hidupnya sendiri. Dan rata-rata orang-orang tersebut adalah manusia ideal yang menjadi icon zaman, seperti para eksekutif, selebritis, dan birokrat. Ada kekeringan dalam diri pribadi-pribadi yang oleh umum dicap “wow.” Keterasingan, keputusasan, memiliki pengaruh yang lebih kuat untuk menghempaskan para pribadi-pribadi ini pada titik lemah. Titik tanpa makna. Sehingga hidup yang berharga menjadi tak bernilai lagi.

Oleh beberapa komunitas kerinduan manusia pada agama beserta ritual menjadi pelepas dahaga, dan pemuas kerinduan dengan kemasan yang berbeda. Rindu akan sesuatu yang telah hilang. Namun tidak sedikit yang berusaha untuk keluar dari ritual dan menyelami sendiri. Dengan berenang menyelami lautan, demikian para praktisi berucap ketika mereka berusaha sendiri tanpa melebeli diri dengan agama tertentu. Mereka adalah para pejuang sejati yang berusaha dan tidak hanya berusaha tetapi berjuang. Berjuang menggali sesuatu yang hilang dan memang dihilangkan dari hidup dan kehidupan. Sebuah sumur antik namun penuh makna. Sumur spirtual yang didalamnya berisikan air sejuk melegahkan dahaga para insan yang kehausan, kekeringan, dan kesepian.

Seperti apakah sumur antik tersebut? Ajaran para guru mulia. salah satunya manusia luar biasa yang telah sempurna, Buddha Gotama. Beliau telah “menggali” ke dalam diri sendiri dan memahami penyebab semua kegelisahan, kesepihan, ketakutan, kekalutan, keraguan, dan kekuatiran yang membuat manusia semakin jauh dari hakekat dirinya sendiri. Kering dan tak berarti. dan selanjutannya Beliau juga menemukan cara untuk mencabut akar dari munculnya persoalan tersebut hingga tercapailah hakekat diri yang sejati, kebahagiaan sempurna. Hal ini telah dilakukan jauh sebelum zaman globalisasi ini. Banyak yang mengatakan apa yang direalisasikan oleh guru Agung kita, Buddha Gotama adalah suatu pengetahuan kuno yang tidak relavan di abad canggih ini. Seperti Borobudur yang dilupakan selama ratusan tahun, apakah kemudian tak bernilai lagi atau justru menjadi sangat berharga? Demikian juga ajaran Sang Sempurna, telah menjadi pelepas dahaga bagi para musafir spiritual. Menyelami dan meneguk setiap tetes air dari sumur antik ini akan menjadi penyegar dan tidak hanya menyegarkan tapi menyuburkan setiap batin yang kering dan gersang.

Di tengah-tengah hiruk pikuk kebisingan dan keterasingan manusia. Patutlah melihat kembali ke dalam diri dan menyadari arti penting hakikat hidup seperti yang telah dilakukan oleh Guru Agung, Buddha Gotama. Sehingga tak bising meski di tengah keramaian tak sepi meski di tengah kesendirian.

Oleh            : Bhikkhu Atthapiyo

Domisili    : Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya

0 Responses to Vtp

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + 12 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



No comments

    • Search Blogs

    • Vihara Tanah Putih